(0)![]()
Analisis pertandingan antara South Korea U23 dan Japan U23
Dilihat dari catatan sejarah, U23 Jepang dan U23 Korea Selatan sama-sama pernah dua kali tampil di partai final. Namun, tim Negeri Matahari Terbit terlihat lebih unggul dengan dua kali menjuarai turnamen, sementara U23 Korea Selatan baru sekali meraih gelar juara. Menariknya, satu-satunya kekalahan Korea Selatan di final justru terjadi saat menghadapi U23 Jepang. Catatan sejarah tersebut menegaskan posisi dan wibawa dua kekuatan besar sepak bola Asia. Oleh karena itu, pertemuan lebih awal di babak semifinal jelas bukan skenario yang diharapkan oleh kedua tim. Meski demikian, situasi ini bukan disebabkan oleh faktor undian semata, melainkan karena U23 Korea Selatan gagal finis sebagai juara grup sehingga harus berada di jalur yang sama dengan U23 Jepang.
Dalam kondisi tersebut, kedua tim terpaksa saling menyingkirkan demi memperebutkan tiket ke final. U23 Jepang melangkah ke fase gugur dengan modal performa impresif, mencetak 10 gol, rata-rata tiga gol per pertandingan, dan belum kebobolan satu gol pun. Namun, kemenangan yang terlalu mudah itu sedikit banyak menimbulkan rasa lengah. Hal ini terlihat jelas di perempat final, ketika mereka harus mengandalkan keberuntungan dalam adu penalti untuk menyingkirkan U23 Yordania. Pengalaman tersebut tentu menjadi peringatan bagi U23 Jepang sebelum menghadapi lawan tangguh seperti U23 Korea Selatan. Di sisi lain, U23 Korea Selatan tampil kurang meyakinkan di fase grup dengan hanya meraih empat poin, tetapi di semifinal mereka berhasil memulihkan gengsi lewat kemenangan penting atas tim kuat U23 Australia.
Dari segi kekuatan skuad, kedua tim dinilai cukup seimbang dan sama-sama memiliki gaya bermain yang variatif. Pada U23 Jepang, lini tengah memegang peranan krusial dalam menyerang maupun bertahan. Khususnya duet Ozeki dan Sato yang menjadi motor utama dalam membangun serangan, tidak hanya piawai dalam menciptakan peluang tetapi juga berkontribusi langsung dengan total lima gol dari empat pertandingan. Selain itu, lini belakang U23 Korea Selatan juga harus mewaspadai “super sub” Shusuke Furuya yang telah mencetak tiga gol. Sementara itu, U23 Korea Selatan tidak memiliki sosok individu yang benar-benar menonjol. Enam gol yang mereka cetak berasal dari enam pemain berbeda, yang mencerminkan kurangnya ketajaman di lini depan. Statistik menunjukkan bahwa jika U23 Jepang selalu mencetak gol dalam keempat pertandingan, U23 Korea Selatan justru gagal mencetak gol dalam dua dari empat laga terakhir — sebuah angka yang patut dikhawatirkan jelang duel besar ini.
