Usia 19 Tahun, Lamine Yamal 'Tamatkan Sepak Bola' Saat Argentina Khianati Messi

7/21/2026

Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun memimpin Spanyol menjuarai Piala Dunia melawan Argentina yang bermain agresif, sekaligus menjadi akhir yang pahit bagi perjalanan Lionel Messi.

Momen ketika Lamine Yamal, remaja jenius Spanyol, memeluk Lionel Messi yang menangis di akhir final Piala Dunia terasa sangat simbolis—sebuah penyerahan obor antar generasi. Messi, di usia 39 tahun, mungkin telah memainkan laga terakhirnya di panggung terbesar, sementara Yamal, di usia 19 tahun, secara efektif telah 'menamatkan' sepak bola internasional dengan mengangkat trofi Piala Dunia hanya dua tahun setelah memenangkan Euro.

Spanyol mengamankan kemenangan berkat gol Ferran Torres pada menit ke-106 di babak perpanjangan waktu. Namun, sorotan utama tertuju pada Yamal, yang menjadi pemain termuda yang memenangkan Piala Dunia dan Euro. Ia menunjukkan kedewasaan yang luar biasa sepanjang turnamen, tetap tenang menghadapi upaya intimidasi dari para pemain Argentina dan membuktikan bahwa bakatnya diimbangi dengan mentalitas juara.

Sebaliknya, ini adalah kekecewaan besar bagi Messi. Tim Argentina seolah mengkhianati kejeniusan kapten mereka sendiri dengan pendekatan permainan yang konfrontatif dan provokatif. Mereka gagal mencatatkan satu pun tembakan ke arah gawang selama 120 menit, sebuah statistik yang mengejutkan untuk sebuah tim di final Piala Dunia. Taktik destruktif ini membuat Messi terisolasi dan tidak efektif.

Pada akhirnya, sepak bola yang menang. Spanyol adalah juara yang pantas, tim yang fokus pada permainan indah. Era Piala Dunia Messi mungkin telah berakhir dengan kesedihan, tetapi era Lamine Yamal, dengan seluruh kariernya yang masih terbentang di depan, baru saja dimulai dengan gemilang.

Sumber: Lamine Yamal 'completes football' at 19 as Argentina betray Messi