Piala Dunia 2026 Sejauh Ini: Panggung Para Bintang, Drama di Menit Akhir, dan Kontroversi Jeda Minum

7/9/2026

Edisi perdana Piala Dunia 48 tim diwarnai oleh performa gemilang para superstar, kejutan dari tim-tim non-unggulan, dan perdebatan sengit tentang jeda hidrasi.

Piala Dunia edisi terbesar dalam sejarah telah melewati setengah jalan, memberikan kesempatan untuk merefleksikan tema-tema utamanya. Di lapangan, para bintang terbesar benar-benar unjuk gigi. Lionel Messi, pada usia 39 tahun, secara tak terduga menjadi pencetak gol terbanyak turnamen, memicu kembali perdebatan tentang statusnya sebagai pemain terhebat sepanjang masa. Nama-nama besar lainnya seperti Kylian Mbappé, Erling Haaland, dan Harry Kane juga tampil tajam.

Format 48 tim yang baru pertama kali diterapkan sempat menimbulkan kekhawatiran akan adanya pertandingan yang tidak seimbang. Meskipun beberapa kekalahan telak memang terjadi, format ini juga melahirkan kejutan-kejutan besar. Kampanye heroik Tanjung Verde, yang menahan imbang juara Eropa Spanyol dan memberikan perlawanan sengit kepada juara dunia Argentina, menjadi pembenaran terbaik untuk ekspansi turnamen. Wajah-wajah baru ini telah menambah warna dan intrik yang tak terduga.

Salah satu ciri khas turnamen ini adalah maraknya drama di menit-menit akhir. Jeda untuk minum (hydration break) dan intervensi VAR yang memakan waktu telah memperpanjang durasi injury time secara signifikan. Hal ini menghasilkan jumlah gol kemenangan di masa tambahan waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dari gol penyama kedudukan dramatis Austria melawan Aljazair hingga gol penentu kemenangan Brasil atas Jepang di menit ke-95, setiap pertandingan menuntut perhatian penuh hingga peluit akhir.

Namun, jeda hidrasi itu sendiri telah menjadi topik kontroversial. Meskipun penting dalam cuaca panas, penerapannya secara seragam—bahkan di stadion ber-AC—telah dikritik karena mengganggu ritme permainan. Beberapa pihak melihatnya sebagai kesempatan bagi pelatih untuk memberikan instruksi taktis, yang secara efektif membagi pertandingan menjadi empat babak. Jika ini terus berlanjut, bisa jadi ini adalah warisan permanen dari Piala Dunia 2026.

Sumber: Superstars, politics & hydration breaks: Themes of the World Cup so far